Senin, 15 Oktober 2007. “Pa .. pa bangun, di depan rumah ada polisi !”, istriku membangunkan aku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23.15 WIB. “Ada apa ya ???”, gumamku sambil mencoba menerka beberapa kemungkinan. Kuberanikan diri untuk mengintip dari jendela. Busyet, 1 mobil patroli tepat berada di depan garasi rumahku. Segera kuambil keputusan untuk keluar via pintu depan.
“Selamat malam pak, maaf ada apa ya?”, tanyaku kepada petugas. “Bapak, warga sini ?”, petugas ganti bertanya. “Iya betul, ini rumah saya dan yang itu rumah bapak S” Aku menjelaskan, karena sepertinya rumah itu yang terus diamati. Tak beberapa lama kemudian pak Y tetangga satu komplek juga ikut nimbrung. Kami bertiga masih terus bertanya dalam hati.
“Apakah bapak tahu, tadi ada sekelompok anak muda ngumpul kira2 empat orang…” “Oh … saya tidak tahu pak !”. “Dan, yang mencurigakan, saat kami lewat mereka langsung melarikan diri, yang 3 naik motor, dan yang satu lari ke kebun tebu…”. “Oh ya…!?”. Aku terperanjat. Kemudian petugas tersebut melanjutkan “Salah satu anggota kami langsung mengejar, lha ini sepedanya ditinggal begitu saja …”. Aku tidak menjawab atau berkomentar dalam hati aku coba berpikir dan berpikir.
Akhirnya, “Ya pak saya tahu permasalahannya, lihat pak di tembok rumah itu ada MURAL baru”. Spontan seluruh yang ada di situ melihat dan menatap tembok rumah pak S. “Wah betul, tadi belum ada, sekarang wah-wah-wah….”. Pak S tidak melanjutkan komentarnya. Saya yakin pasti karena jengkel. Bukan lagi setengah tembok yang telah dicoret-coret mural tetapi sekarang hamper seluruhnya. Salah satu petugas segera menuju mural tersebut dan menyetuhnya. “Benar pak catnya masih basah”. Kemudian, “Berarti ini ulah mereka tadi….”.
Tiba-tiba dari arah kejauhan terdengar bunyi tembakan. DORRR, “Jangan lari …….”. Seorang petugas berteriak. Kami bertiga terkejut dan langsung negative thinking. “Pak, pelakunya ditembak ya pak ???” Saya memberanikan diri bertanya. “Oh tidak pak, tadi tembakan peringatan, bagaimanapun juga perbuatan tadi melanggar hukum”. “Oh, begitu ya pak, jika kami melihat bisa kita laporkan dong ??”. “Bisa pak … kami akan segera ambil tindakan”.
Tak lama kemudian, petugas yang mengejar tadi kembali dengan tangan hampa. “Wah gak kena pak …”. Dalam hatiku “Oh syukurlah… jangan karena mural sampai terjadi korban jiwa”. “Lha sepedanya pak ?”, aku bertanya. “Oh akan kami tahan sebagai bukti, dan titip pak jika ada yang mencari suruh saja ke kantor polisi pak”. “Oke pak, tapi apakah mungkin mereka datang ???”.
Pukul 24.15 kami bubar. Dalam hati masih tidak kumengerti dan terus bertanya “Haruskah kreatifitas dibayar mahal dengan hilangnya sebuah sepeda dan Sebuah Tembakan Peringatan”. Mungkin ada benarnya dalam sisi hukum. Who knows ?